Langsung ke konten utama

Optimizing Self - Finding Self



THE TRUE ME

Bagian terbaik hidup kita terlewatkan dengan ucapan,”masih terlalu awal” dan kemudian, “sudah terlambat”.
Plaubert

Alkisah di kerajaan binatang, setelah selesai bersekolah di hutan seberang pulau seekor simpanse besar merasa tidak puas dengan kehidupan mereka.  Menurutnya rakyat di kerajaannya terlalu dimanja oleh alam hutan tempat mereka tinggal selama beribu generasi.  Hal ini membuat warganya kehilangan gairah untuk mengembangkan diri dan masyarakat mereka.  Kegelisahan tersebut membuat simpanse besar itu meneriakkan “revolusi kehidupan” yang mengajak semua warga kerajaan binatang melakukan perombakan besar atas peri kehidupan mereka, maksudnya agar kehidupan mereka menjadi lebih dinamis.  Teriakan gundah simpanse besar ini ternyata mendapat sambutan dari masyarakat kerajaan terutama kaum muda.  Seekor kambing muda yang terinspirasi berat oleh semangat pengembangan diri habis-habisan ini kemudian merencanakan perombakan drastis dalam kehidupannya.  Ia merasa, berlari bukan lagi cara yang efektif untuk mengatasi persaingan memperebutkan padang rumput sumber kehidupan mereka.  Ia merencanakan akan kursus terbang pada elang agar memiliki “competitive advantage” dibandingkan rekan-rekannya. “Itu baru perubahan,” pikirnya.  Di tempat lain, seekor bebek muda merasakan hal yang sama.  Namun berbeda dengan kambing, bebek ini memilih meninggalkan pelajaran renangnya dan mengambil privat berlari pada seekor kuda.
Siapa aku? Pertanyaan sederhana, dengan jawaban yang harus dicari seumur hidup, dan tragisnya, belum tentu ketemu juga jawabnya. Konyolnya lagi, meskipun belum teruji nilai kebenaran atas jawaban siapa aku itu, persepsi atas siapa diri kita ini diperlukan untuk kehidupan kita sehari-hari. Kalau aku adalah “bebek”, rasanya lebih tepat untuk belajar berenang daripada belajar berlari atau terbang, sedangkan kalau aku adalah “kambing”, belajar terbang sepertinya terasa sinting (tetapi Anda tahu mengenai perkara sinting ini, gagasan sinting-lah yang banyak membuat perubahan pada dunia). Tentu saja tidak ada salahnya memiliki cita-cita atau harapan yang tinggi seperti kambing atau bebek yang sedang sangat bersemangat untuk melakukan perombakan diri habis-habisan.  Tapi kambing dan bebek ini agaknya lupa dengan cakrawala kekambingan atau kebebekan mereka.  Meskipun bersemangat tinggi, namun tanpa pengertian yang tepat atas diri mereka sendiri, jalan yang ditempuh akan keliru.  Disitulah pentingnya evaluasi diri.  Singkatnya, pengenalan atas diri kita, garis takdir kita, akan membuat hidup menjadi lebih mudah, lebih bahagia, boleh jadi juga menjadi lebih bermakna. Bahkan, Anda tentu masih ingat dengan peribahasa ini: “man arafa nafsahu, fa-qad arafa rabbahu”.
Tugas kita sekarang ini adalah untuk mencari tahu dengan mendalam dan dengan kesungguhan – bukan main-main seperti anak mahasiswa semester pertama, siapa diri kita sebenarnya, apa yang benar-benar aku inginkan dalam kehidupan dan kehidupan seperti apa yang ingin aku jalani. Boleh saja suatu saat kita berubah, pikiran dan pendirian kita, akan tetapi tanpa penyesalan dan rasa bersalah karena kita tahu telah memberikan yang terbaik. Jangan sampai kemudian kita dihantui oleh kata-bijak dari Plaubert di atas: “Bagian terbaik hidup kita terlewatkan dengan ucapan, “masih terlalu awal”, dan kemudian, “sudah terlambat’. Keberanian, kejujuran, dan kehendak untuk menemukan kebenaran merupakan syarat mutlak dalam proses pencarian ini.
Latihan 1
Latihan ini diadaptasi dari Quantum Psychology oleh Stephen H. Wolinsky (2000)[1]:
Pejamkan mata Anda sejenak
Tanpa menggunakan pikiran, ingatan, emosi, asosiasi, persepsi, perhatian, atau niat, apakah Anda seorang laki-laki, perempuan, atau bukan keduanya?
Tanpa menggunakan pikiran, ingatan, emosi, asosiasi, persepsi, perhatian, atau niat, apakah Anda terbatas, tidak terbatas, atau bukan keduanya?
Tanpa menggunakan pikiran, ingatan, emosi, asosiasi, persepsi, perhatian, atau niat, apakah Anda terdefinisikan, tak terdefinisikan atau bukan keduanya?
Tanpa menggunakan pikiran, ingatan, emosi, asosiasi, persepsi, perhatian, atau niat, apa itu penyembuhan?
Tanpa menggunakan pikiran, ingatan, emosi, asosiasi, persepsi, perhatian, atau niat, apa yang perlu disembuhkan?
Tanpa menggunakan pikiran, ingatan, emosi, asosiasi, persepsi, perhatian, atau niat, perhatikan suara satu telapak tangan bertepuk tangan.
Sekarang, sebentar nanti saya akan meminta Anda membuka mata dan kembali ke ruangan ini, sementara itu saya tetap meminta bagian dari kesadaran Anda untuk tetap berada pada wilayah bukan wilayah tanpa pikiran, ingatan, emosi, asosiasi, persepsi, perhatian atau niat. Saat membuka mata, bagian diri Anda dapat memperhatikan wilayah tanpa pikiran, ingatan, emosi, asosiasi, persepsi, perhatian, atau niat, sementara bagian diri Anda yang lain dapat kembali ke ruangan ini. Jadi, kalau Anda sudah merasa siap, bukalah mata Anda.

BELAJAR DARI KEGAGALAN[2]
Prinsip 1. Kegagalan tidak terjadi begitu saja. Sebagaimana kesuksesan, kegagalan memiliki struktur dan sekuen. Pengertian mengenai struktur atas kegagalan ini dapat menjadi masukan yang berharga untuk tidak mengulangi kegagalan yang pernah terjadi. Struktur kegagalan terkait dengan individu. Manusia adalah makhluk dengan kebiasaan: cara tidur, cara makan, waktu makan, cara jalan, dan sebagian besar aspek kehidupan kita tergantung kepada kebiasaan kita. Tentu saja, kebiasaan itulah yang membuat kita menjadi pribadi tertentu. Demikian juga dengan kegagalan, salah satu pertanyaan yang bagus adalah apakah kita dapat mengenali adanya struktur kegagalan tempat kita dapat belajar dari kegagalan tersebut?
Misalnya dalam proses pencarian kerja, sebagian dari kita barangkali tidak sekali melamar dan langsung lolos mendapatkan pekerjaan yang kita kehendaki. Pada saat mendapati nama kita bukan termasuk nama yang lolos seleksi, bagaimana sikap kita? Apa yang terbetik dalam pikiran kita? Beberapa orang, pastilah bukan termasuk Anda, begitu “terkesan” dengan kegagalan sehingga peristiwa ini membuatnya tidak mampu bergerak dan terus merutuki kegagalan yang menimpanya. Orang seperti ini perlu belajar dari peribahasa “daripada mengutuki kegelapan, lebih baik ambil sebatang lilin dan nyalakan”. Sebagian lagi, masih dengan “kesan” yang begitu tinggi atas kegagalan tersebut, menjadi traumatik dan menggunakan mekanisme pertahanan diri (self-defence mechanism) undoing atau tidak mampu melakukan apapun juga. Orang tersebut kemudian mundur dari percaturan pencarian tenaga kerja, dan bertambah depresi di rumah.
Ada juga orang yang “cukup terkesan” dengan peristiwa kegagalan itu, melihat peristiwa tersebut sebagai sesuatu yang “biasa” meskipun menyakitkan, dan mencoba belajar dari kegagalan yang ada secara obyektif dan proporsional (karena seperti paragraf di atas, ada orang yang melihatnya secara tidak proporsional). Dia kaitkan peristiwa tersebut dengan pengetahuan mengenai dirinya dari pengalaman masa lalu, dan mencari tahu apakah faktor yang mempengaruhi kegagalan dirinya untuk kemudian dia perbaiki pada kesempatan berikutnya.
Prinsip 2. Mengubah kegagalan menjadi kesuksesan dimulai dari pikiran dan penghayatan kita atas kegagalan tersebut. Jika kegagalan mengarah pada menyalahkan diri atau perasaan bahwa diri kita tidak berharga, hal ini dapat saja membawa pada penghambatan atas ambisi, membawa kepada depresi dan barangkali menghancurkan gambaran diri kita. Hal ini dapat membawa kepada perasaan sedih dan putus asa, kemarahan, kesinisan, bahkan perlawanan kepada otoritas maupun masyarakat secara umum. Kegagalan perlu dilihat kembali secara arif. Reframing failure adalah sebuah cara untuk memberikan sudut pAndang dan perspektif yang berbeda atas kegagalan yang menimpa. Pernyataan “saya gagal dalam wawancara kerja” dapat di reframe dengan “mereka memilih orang yang lebih mereka sukai, atau seseorang dengan pengalaman atau kualifikasi lebih baik…dan hal yang dapat saya pelajari dari hal tersebut bahwa saya akan meningkatkan cara saya melakukan wawancara kerja dilain kesempatan”. Apakah kedua pernyataan tersebut membawa dampak psikologi yang berbeda? Seorang teman saya akan mengatakan dengan cara yang lebih humoris lagi: “perusahaan itu tidak cukup baik untuk saya, jadi kalaupun kali ini tidak diterima bakalan ada perusahaan lain yang lebih baik untuk kehidupan saya”.
Prinsip 3. Mengubah kegagalan berarti berubah. Salah satu kegagalan yang umum adalah membiarkan begitu saja apa yang kita butuhkan atau kita inginkan berlalu. Terpaku dan tidak mau berubah boleh dikatakan merupakan suatu seni tersendiri dimana masing-masing kita memiliki cara dan alasan tertentu untuk tidak berubah. Berikut daftar yang dapat digunakan untuk melihat beberapa kemungkinan untuk tidak berubah tersebut, diantaranya: takut atas hal-hal yang tidak diketahui, menghabiskan waktu dengan orang-orang yang hanya menggunakan frame masalah, memiliki frame yang tidak realistik untuk berubah, percaya bahwa apa yang Anda inginkan tidak akan tercapai, selalu ragu dengan kemampuan Anda sendiri – khawatir mengenai efek perubahan pada orang lain dan tidak melakukan apapun, menjadi sinis, membiarkan diri Anda terus menerus berada di bawah tekanan, tidak memberikan kesempatan kepada diri Anda untuk bermimpi.

Nah, Anda sudah belajar bahwa kegagalan memiliki sisi-sisi tertentu, dapat dimanfaatkan atau dapat pula menghancurkan. Satu hal yang dapat Anda pegang, Anda pastilah JAUH LEBIH BESAR dari kegagalan Anda, untuk tidak mengulanginya lagi atau bahkan mengambil keuntungan dari kegagalan itu, menjadikannya momentum dahsyat mengenali diri sendiri dan hidup bahagia dengan diri Anda yang sebenarnya.
Guru saya pernah mengajarkan untuk memaafkan guna mendapatkan kebebasan mental spiritual. Sekarang saya minta Anda untuk melakukan hal yang sama.
Latihan 2
Pikirkan satu kegagalan sangat besar yang pernah Anda alami, visualisasikan dalam benak Anda, dan hayati kembali. Tegangkan otot-otot tubuh Anda bersamaan dengan emosi Anda yang semakin meninggi. Anda bisa memikirkan penyebab kegagalan itu dan juga rasa-pedih-lukanya. (Anda boleh mengumpat dalam hati, atau menangis perlahan). Anda bisa memikirkan orang-orang di sekeliling Anda, orang-orang yang memiliki andil, atau bahkan menjadi penyebab kegagalan itu. Anda bisa mengumpati kebodohan diri. Hayati, rasakan emosinya tanpa berpikir, rasakan saja. Sekarang kendorkan otot-otot Anda mulai dari kaki hingga kepala, sembari perlahan-lahan lepaskan emosi Anda. Sekarang tubuh Anda terasa relaks dan pikiran Anda mulai merasa tenang.
Pikirkan bahwa dari semua kegagalan dan kebodohan Anda, Tuhan masih menyelamatkan Anda, sehingga pantas Anda merasa terharu untuk mensyukuri itu. Dengan rasa haru dan kesyukuran itu, sekarang MAAFKAN DIRI ANDA. Maafkan kegagalan itu, maafkan semua kesalahan dan kebodohan Anda. MAAFKAN SEMUA ORANG yang mungkin menjadi penyebab kegagalan itu. MAAFKAN DUNIA yang membawa kejadian mengerikan itu pada Anda. MAAFKAN SEMUANYA, untuk menjadi PRIBADI YANG MERDEKA.

MENCARI MAKNA
Sukses kerap kali diidentikkan dengan “memiliki”: memiliki rumah yang megah, memiliki kendaraan mewah, memiliki asisten pribadi, dan lain sebagainya, berbagai hal yang memiliki makna material. Sering juga saya dengar gurauan “kalau saya yang penting kepribadian sih Pak”, ungkap seorang gadis ketika ditanya mengenai kriteria pemuda idaman, ungkapan yang seolah menunjukkan prioritas pada sikap-sifat-proses kemenjadian. Anda tentu sudah tahu lanjutan perkataan gadis itu, “…maksudnya sih, apa ada rumah pribadi, kolam renang pribadi, kendaraan pribadi, dan lain-lain”.
Sebuah survey berbasis statistik dilakukan terhadap 7.948 murid pada 48 colleges di Amerika Serikat, yang dilakukan oleh ilmuwan sosial dari Universitas John Hopkins. Laporan awal mereka merupakan bagian dari penelitian dua tahun yang didukung oleh National Institute of Mental Health. Kepada para murid itu ditanyakan apa yang mereka anggap “paling penting” bagi mereka, 16 persen dari murid memilih “menghasilkan banyak uang”; 78 persen menyatakan tujuan utama mereka adalah “menemukan tujuan dan makna hidup”.[3]
Ketika seseorang bertanya kepada Einstein, pertanyaan apa yang akan ia ajukan kepada Tuhan bila dia dapat mengajukan pertanyaan itu, dia menjawab, “Bagaimana awal mula jagad raya ini? Karena segala sesuatu sesudahnya hanya masalah matematika.” Tapi setelah berpikir beberapa saat, dia mengubah pikirannya, lalu bilang, “Bukan itu. Saya akan bertanya, ‘kenapa dunia ini diciptakan?’ Karena dengan demikian saya akan mengetahui makna hidup saya sendiri.”[4]
Lalu apa itu makna hidup yang untuk seseorang? Victor Frankl menjelaskan bahwa makna hidup berbeda-beda dari satu orang kepada orang yang lain, berbeda dari hari ke hari, dari jam ke jam. Karena itu yang penting bukanlah makna hidup secara umum, namun makna hidup secara khusus seseorang pada saat itu. Mengibaratkan dengan bermain catur di mana tidak pernah ada langkah yang terbaik terlepas dari situasi, demikian juga dengan makna hidup. Karena itu tidak perlu bagi seseorang untuk mencari makna hidup yang abstrak. Setiap orang memiliki kesempatan atau misi khusus dalam kehidupan untuk memenuhi tugas nyata yang harus dipenuhi. Karena itu tugas setiap orang adalah unik seperti peluang spesifik untuk mengimplementasikannya.[5]
Makna kita berasal dari dalam. Kembali, dalam kata-kata Frankl, “Akhirnya, manusia tidak boleh menanyakan apa makna dari hidupnya, tetapi ia harus sadar bahwa dialah yang ditanya. Singkatnya, tiap orang ditanyai oleh hidup; dan ia dapat menjawab kehidupan melalui kehidupannya sendiri; kepada kehidupan ia hanya dapat memberi respon dengan bertanggung jawab.”[6] Bertanya kepada kehidupan kita sendiri, dengan sungguh-sungguh: “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya, bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada.”[7]
Kehidupan adalah pertanyaan sekaligus jawaban atas makna yang didambakan, karena itu umpan balik dari kehidupan menjadi relevan untuk dimengerti. Berikut beberapa catatan dari NLP mengenai bagaimana memperlakukan umpan balik untuk sukses.[8]
Prinsip 1, Umpan balik merupakan fondasi dari kesuksesan. Dibagian atas kita telah belajar bahwa dari kegagalan kita dapat belajar banyak hal. Karena kegagalan tentu saja rasanya pahit, namun seperti obat rasa pahit itu dapat menyembuhkan. Meski demikian, sama pentingnya bagi kita untuk mendapatkan masukan dan umpan balik dari keberhasilan. Bagaimana caranya? Tanyakan pada diri Anda bagaimana tepatnya Anda melakukan pencapaian tersebut. Cari tahu dari kata-kata tanya ini dan jawablah secara akurat serta spesifik: apa, bagaimana, kapan, dimana. Cobalah untuk lebih banyak fokus pada keberhasilan daripada kegagalan, fokus pada apa yang dapat dilakukan daripada yang tidak dapat dilakukan. Fokus pada apa yang tidak dapat membuat kita tidak bergerak.
Prinsip 2, Kegagalan hanyalah sebuah umpan balik saja. Kalimat tersebut adalah merupakan reframing yang bagus dari kegagalan. Dari kegagalan Anda dapat belajar banyak. Kegagalan adalah feedback mengenai salah satu bagian dari sistem yang bekerja tidak bersesuaian dengan tujuan Anda. Anda perlu merasa ingin tahu dengan hal tersebut. Tanyakan bagaimana, apa, kapan, dan dimana Anda mengalami kegagalan tersebut. Bertanya dengan mengapa setelah suatu kejadian kegagalan biasanya kurang berguna karena cenderung membuat kita menjadi defensive.
Prinsip 3, Gunakan beragam jenis umpan balik, baik dari dalam maupun dari luar.
Prinsip 4, Contrastive Analysis. Carilah the difference that makes the difference. Dalam mengumpulkan informasi, penting sekali untuk memperhatikan detail. Ketika membandingkan dua peristiwa atau proses yang tampaknya serupa tapi hasilnya berbeda, penting sekali untuk mencari perbedaan antar kedua hal tersebut, dan kemudian menemukan mana dari kedua peristiwa tersebut yang merupakan kunci bagi perbedaan hasil.
JENDELA MASA DEPAN
Bolehkah memiliki pengharapan atas masa depan? Tentu saja, karena firman Tuhan, “dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah”,[9] memberi pengertian untuk memiliki pandangan positif terhadap masa depan, yang tentu saja kemudian perlu diwujudkan dalam kerja keras agar apa yang disebut sebagai “penciptaan pertama” yaitu visi kita dapat maujud dalam “penciptaan kedua” yaitu penciptaan fisik.[10] Tidak harus berpaham deterministik untuk mengetahui bahwa apa yang kita lakukan hari ini memiliki potensi untuk memberikan hasil di masa yang akan datang. Menanam padi hari ini, tiga bulan kemudian memetik hasilnya.
Stephen R. Covey mengungkapkan, visi berarti melihat keadaan masa depan dengan mata batin kita, dengan pikiran kita. Visi adalah imajinasi terapan. Semua hal diciptakan dua kali: pertama, merupakan ciptaan pikiran; kedua, ciptaan fisik, dalam wujud bendanya. Ciptaan pertama, yaitu visi, adalah awal dari proses penemuan diri, atau proses penemuan diri organisasi. Visi mewakili keinginan, impian, harapan, tujuan, dan rencana. Tetapi impian atau visi itu bukan hanya sekedar fantasi. Visi adalah realitas yang belum benar-benar terwujud secara fisik; seperti cetak biru dari sebuah rumah sebelum rumah itu dibangun, atau notasi musik yang menunggu untuk dimainkan.[11]
Menarik sekali ungkapan selanjutnya dari Stephen R. Covey (2005) mengenai visi ini. “Mungkin visi yang paling penting adalah mengembangkan pemahaman mengenai diri sendiri, pemahaman mengenai garis hidup Anda, pemahaman mengenai misi hidup anda dan peran unik anda dalam hidup ini, pemahaman mengenai tujuan dan makna hidup. Ketika menguji visi pribadi anda, pertama-tama tanyakan kepada diri anda: apa visi itu ada kaitan erat dengan suara panggilan jiwa saya, energi saya, bakat unik saya? Apakah dengan visi itu saya merasa punya panggilan tertentu, suatu alasan atau tujuan yang pantas mendapat komitmen dari diri saya? Untuk mendapatkan makna seperti itu kita dituntut untuk melakukan renungan yang mendalam, mengajukan pertanyaan yang mendalam dan membayangkannya dalam penglihatan batin kita.”
Latihan 3
Latihan ini perlu dilakukan dengan hati yang bening dan tenang, ditandai dengan pernafasan yang ringan, tenang dan teratur dan peredaran darah yang tenang. Dengan mempertimbangkan seluruh kondisi anda, apa yang benar-benar anda inginkan dalam hidup?

Latihan 4
Langkah konkret apa yang dapat anda lakukan sekarang untuk mencapai keinginan anda tersebut?






[1] Stephen H. Wolinsky. 2000. The Beginner’s Guide to Quantum Psychology. Holland: Cordon Art BV
[2] Prinsip-prinsip diambil dari Ian Mc. Dermot & Wendy Jago. 2002. The NLP Coach, A Comprehensive Guide to Personal Well-Being & Professional Success. London: Judy Piatkus
[3] Victor Frankl. 1984. Man’s Search For Meaning. New York: Washington Squares Press.
[4] Ibid
[5] Ibid
[6] Ibid
[7] Q.S. 22: 46
[8] Op.Cit. Ian Mc. Dermot & Wendy Jago
[9]
[10] Terminologi yang digunakan Stephen R. Covey. 1997. The Seven Habits of Highly Effective People. Jakarta: Binarupa Aksara., dalam kebiasaan keduanya yaitu mulai dengan akhir dalam pikiran (begin with the end on the mind).
[11] Stephen R. Covey. 2005. The 8th Habit, Melampaui Efektivitas, Menggapai Keagungan (terj). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Komentar

  1. KALAU anda bodoh sia-sia saja saya menjawab
    KALAU anda pintar pasti sudah punya jawabnya
    jadi bagaimanapun kondisi anda, saya tidak bisa membantu menjawab

    BalasHapus
  2. Tentu saja
    Soalnya saya juga sedang sibuk berlatih

    BalasHapus
  3. asslamu'alaykum Pak saya iis fitriatun G0110031 sudah mengirimkan tugas Modifikasi Perilaku tentang Kontrol Stimulus ke email Bapak. terimaksih :)

    BalasHapus
  4. assalamu'alaykum Pak, saya Iis Fitriatun G0110031 sudah mengirimkan tugas rancangan program ke email Bapak. Terima kasih.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Optimizing Self - Enjoying Self

THE HAPPY ME Tidak mungkin ada masalah di minggu depan, soalnya jadwal saya saat itu penuh. Henry Kissinger Gotami seorang ibu muda, mempunyai seorang anak tunggal yang telah diidam-idamkannya. Anak itu sekarang sudah berusia dua tahun dan sedang lucu-lucunya. Pada suatu hari, anak itu sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Dapat dibayangkan betapa sedihnya hati Gotami, sang ibu. Ia membawa jenazah anaknya ke mana-mana mendatangi para maharesi yang cerdik pandai, untuk meminta anaknya dihidupkan kembali. Dengan sendirinya tak ada diantara resi-resi itu yang sanggup melakukannya, selain seorang maharesi yang paling tua dan paling bijaksana. Resi tua itu menyanggupi untuk menghidupkan kembali anak Gotami asal Gotami berhasil membawa sejenis bumbu dapur yang berasal dari sebuah rumah tangga yang sama sekali belum pernah kematian anggota keluarganya. Ternyata Gotami tak berhasil memperoleh obat penawar itu, karena setiap rumah yang ia kunjungi telah mengalami penderi...
HIGHLANDER Jika foto ini mengingatkan Anda pada Highlander, Anda tidak salah. Hari-hari saya berjumpa dengannya memang Ia sedang mengembara di pegunungan tinggi, mempertahankan diri dari sergapan alam yang buas. Meski tidak sekejam Kurgan yang ingin memenggal kepalanya dan mengancam keabadiannya, setidaknya udara dingin mampu membekukan sumsum tulang. Dan Anda lihat, ia makan seperti gelandangan kelaparan, menunjukkan tingkat kehidupan yang sangat rendah, hampir-hampir saja seperti ia terkalahkan terpancung oleh Kurgan. Dalam versi ini, Highlander memang makan nasi bungkus dan pake tangan (jw = muluk). Lalu kemana jurus pedangnya? hiaaatttttt........ Tapi kalau Ia adalah Highlander, maka saya pastilah Timur Khan yang kekuasaannya melingkupi daratan yang sangat luas. Sayang, Timur Khan kali ini tampak terlalu lembut dan terlalu sering nyengir. Atau lebih tampak seperti tentara nipon yan? Dan ini pastilah The Rock, sedikit pitingan, ...