THE
TRUE ME
Bagian
terbaik hidup kita terlewatkan dengan ucapan,”masih terlalu awal” dan kemudian,
“sudah terlambat”.
Plaubert
Alkisah di kerajaan binatang, setelah selesai
bersekolah di hutan seberang pulau seekor simpanse besar merasa tidak puas dengan
kehidupan mereka. Menurutnya rakyat di
kerajaannya terlalu dimanja oleh alam hutan tempat mereka tinggal selama beribu
generasi. Hal ini membuat warganya
kehilangan gairah untuk mengembangkan diri dan masyarakat mereka. Kegelisahan tersebut membuat simpanse besar
itu meneriakkan “revolusi kehidupan” yang mengajak semua warga kerajaan
binatang melakukan perombakan besar atas peri kehidupan mereka, maksudnya agar
kehidupan mereka menjadi lebih dinamis.
Teriakan gundah simpanse besar ini ternyata mendapat sambutan dari
masyarakat kerajaan terutama kaum muda.
Seekor kambing muda yang terinspirasi berat oleh semangat pengembangan
diri habis-habisan ini kemudian merencanakan perombakan drastis dalam
kehidupannya. Ia merasa, berlari bukan
lagi cara yang efektif untuk mengatasi persaingan memperebutkan padang rumput
sumber kehidupan mereka. Ia merencanakan
akan kursus terbang pada elang agar memiliki “competitive advantage”
dibandingkan rekan-rekannya. “Itu baru perubahan,” pikirnya. Di tempat lain, seekor bebek muda merasakan
hal yang sama. Namun berbeda dengan
kambing, bebek ini memilih meninggalkan pelajaran renangnya dan mengambil
privat berlari pada seekor kuda.
Siapa aku? Pertanyaan sederhana, dengan jawaban
yang harus dicari seumur hidup, dan tragisnya, belum tentu ketemu juga
jawabnya. Konyolnya lagi, meskipun belum teruji nilai kebenaran atas jawaban
siapa aku itu, persepsi atas siapa diri kita ini diperlukan untuk kehidupan
kita sehari-hari. Kalau aku adalah “bebek”, rasanya lebih tepat untuk belajar
berenang daripada belajar berlari atau terbang, sedangkan kalau aku adalah
“kambing”, belajar terbang sepertinya terasa sinting (tetapi Anda tahu mengenai
perkara sinting ini, gagasan sinting-lah yang banyak membuat perubahan pada
dunia). Tentu saja tidak ada salahnya memiliki cita-cita atau harapan yang
tinggi seperti kambing atau bebek yang sedang sangat bersemangat untuk
melakukan perombakan diri habis-habisan. Tapi kambing dan bebek ini agaknya lupa dengan
cakrawala kekambingan atau kebebekan mereka.
Meskipun bersemangat tinggi, namun tanpa pengertian yang tepat atas diri
mereka sendiri, jalan yang ditempuh akan keliru. Disitulah pentingnya evaluasi diri. Singkatnya, pengenalan atas diri kita, garis
takdir kita, akan membuat hidup menjadi lebih mudah, lebih bahagia, boleh jadi
juga menjadi lebih bermakna. Bahkan, Anda tentu masih ingat dengan peribahasa
ini: “man arafa nafsahu, fa-qad arafa rabbahu”.
Tugas kita sekarang ini adalah untuk mencari
tahu dengan mendalam dan dengan kesungguhan – bukan main-main seperti anak
mahasiswa semester pertama, siapa diri kita sebenarnya, apa yang benar-benar
aku inginkan dalam kehidupan dan kehidupan seperti apa yang ingin aku jalani.
Boleh saja suatu saat kita berubah, pikiran dan pendirian kita, akan tetapi
tanpa penyesalan dan rasa bersalah karena kita tahu telah memberikan yang
terbaik. Jangan sampai kemudian kita dihantui oleh kata-bijak dari Plaubert di
atas: “Bagian terbaik hidup kita terlewatkan dengan ucapan, “masih terlalu
awal”, dan kemudian, “sudah terlambat’. Keberanian, kejujuran, dan kehendak
untuk menemukan kebenaran merupakan syarat mutlak dalam proses pencarian ini.
Latihan 1
Latihan ini diadaptasi dari Quantum Psychology
oleh Stephen H. Wolinsky (2000)[1]:
Pejamkan mata Anda sejenak
Tanpa menggunakan pikiran, ingatan, emosi,
asosiasi, persepsi, perhatian, atau niat, apakah Anda seorang laki-laki,
perempuan, atau bukan keduanya?
Tanpa menggunakan pikiran, ingatan, emosi,
asosiasi, persepsi, perhatian, atau niat, apakah Anda terbatas, tidak terbatas,
atau bukan keduanya?
Tanpa menggunakan pikiran, ingatan, emosi,
asosiasi, persepsi, perhatian, atau niat, apakah Anda terdefinisikan, tak
terdefinisikan atau bukan keduanya?
Tanpa menggunakan pikiran, ingatan, emosi,
asosiasi, persepsi, perhatian, atau niat, apa itu penyembuhan?
Tanpa menggunakan pikiran, ingatan, emosi,
asosiasi, persepsi, perhatian, atau niat, apa yang perlu disembuhkan?
Tanpa menggunakan pikiran, ingatan, emosi,
asosiasi, persepsi, perhatian, atau niat, perhatikan suara satu telapak tangan bertepuk
tangan.
Sekarang, sebentar nanti saya akan meminta Anda
membuka mata dan kembali ke ruangan ini, sementara itu saya tetap meminta
bagian dari kesadaran Anda untuk tetap berada pada wilayah bukan wilayah tanpa
pikiran, ingatan, emosi, asosiasi, persepsi, perhatian atau niat. Saat membuka
mata, bagian diri Anda dapat memperhatikan wilayah tanpa pikiran, ingatan,
emosi, asosiasi, persepsi, perhatian, atau niat, sementara bagian diri Anda
yang lain dapat kembali ke ruangan ini. Jadi, kalau Anda sudah merasa siap,
bukalah mata Anda.
BELAJAR DARI KEGAGALAN[2]
Prinsip
1.
Kegagalan tidak terjadi begitu saja. Sebagaimana kesuksesan, kegagalan memiliki
struktur dan sekuen. Pengertian mengenai struktur atas kegagalan ini dapat
menjadi masukan yang berharga untuk tidak mengulangi kegagalan yang pernah
terjadi. Struktur kegagalan terkait dengan individu. Manusia adalah makhluk
dengan kebiasaan: cara tidur, cara makan, waktu makan, cara jalan, dan sebagian
besar aspek kehidupan kita tergantung kepada kebiasaan kita. Tentu saja,
kebiasaan itulah yang membuat kita menjadi pribadi tertentu. Demikian juga
dengan kegagalan, salah satu pertanyaan yang bagus adalah apakah kita dapat
mengenali adanya struktur kegagalan tempat kita dapat belajar dari kegagalan
tersebut?
Misalnya dalam proses pencarian kerja,
sebagian dari kita barangkali tidak sekali melamar dan langsung lolos
mendapatkan pekerjaan yang kita kehendaki. Pada saat mendapati nama kita bukan
termasuk nama yang lolos seleksi, bagaimana sikap kita? Apa yang terbetik dalam
pikiran kita? Beberapa orang, pastilah bukan termasuk Anda, begitu “terkesan”
dengan kegagalan sehingga peristiwa ini membuatnya tidak mampu bergerak dan
terus merutuki kegagalan yang menimpanya. Orang seperti ini perlu belajar dari
peribahasa “daripada mengutuki kegelapan, lebih baik ambil sebatang lilin dan nyalakan”.
Sebagian lagi, masih dengan “kesan” yang begitu tinggi atas kegagalan tersebut,
menjadi traumatik dan menggunakan mekanisme pertahanan diri (self-defence mechanism) undoing atau tidak mampu melakukan
apapun juga. Orang tersebut kemudian mundur dari percaturan pencarian tenaga
kerja, dan bertambah depresi di rumah.
Ada juga orang yang “cukup terkesan”
dengan peristiwa kegagalan itu, melihat peristiwa tersebut sebagai sesuatu yang
“biasa” meskipun menyakitkan, dan mencoba belajar dari kegagalan yang ada
secara obyektif dan proporsional (karena seperti paragraf di atas, ada orang
yang melihatnya secara tidak proporsional). Dia kaitkan peristiwa tersebut
dengan pengetahuan mengenai dirinya dari pengalaman masa lalu, dan mencari tahu
apakah faktor yang mempengaruhi kegagalan dirinya untuk kemudian dia perbaiki
pada kesempatan berikutnya.
Prinsip
2.
Mengubah kegagalan menjadi kesuksesan dimulai dari pikiran dan penghayatan kita
atas kegagalan tersebut. Jika kegagalan mengarah pada menyalahkan diri atau perasaan
bahwa diri kita tidak berharga, hal ini dapat saja membawa pada penghambatan
atas ambisi, membawa kepada depresi dan barangkali menghancurkan gambaran diri
kita. Hal ini dapat membawa kepada perasaan sedih dan putus asa, kemarahan,
kesinisan, bahkan perlawanan kepada otoritas maupun masyarakat secara umum.
Kegagalan perlu dilihat kembali secara arif. Reframing failure adalah sebuah cara untuk memberikan sudut pAndang
dan perspektif yang berbeda atas kegagalan yang menimpa. Pernyataan “saya gagal
dalam wawancara kerja” dapat di reframe
dengan “mereka memilih orang yang lebih mereka sukai, atau seseorang dengan
pengalaman atau kualifikasi lebih baik…dan hal yang dapat saya pelajari dari
hal tersebut bahwa saya akan meningkatkan cara saya melakukan wawancara kerja
dilain kesempatan”. Apakah kedua pernyataan tersebut membawa dampak psikologi
yang berbeda? Seorang teman saya akan mengatakan dengan cara yang lebih humoris
lagi: “perusahaan itu tidak cukup baik untuk saya, jadi kalaupun kali ini tidak
diterima bakalan ada perusahaan lain yang lebih baik untuk kehidupan saya”.
Prinsip
3.
Mengubah kegagalan berarti berubah. Salah satu kegagalan yang umum adalah
membiarkan begitu saja apa yang kita butuhkan atau kita inginkan berlalu.
Terpaku dan tidak mau berubah boleh dikatakan merupakan suatu seni tersendiri
dimana masing-masing kita memiliki cara dan alasan tertentu untuk tidak
berubah. Berikut daftar yang dapat digunakan untuk melihat beberapa kemungkinan
untuk tidak berubah tersebut, diantaranya: takut atas hal-hal yang tidak
diketahui, menghabiskan waktu dengan orang-orang yang hanya menggunakan frame
masalah, memiliki frame yang tidak realistik untuk berubah, percaya bahwa apa
yang Anda inginkan tidak akan tercapai, selalu ragu dengan kemampuan Anda
sendiri – khawatir mengenai efek perubahan pada orang lain dan tidak melakukan
apapun, menjadi sinis, membiarkan diri Anda terus menerus berada di bawah
tekanan, tidak memberikan kesempatan kepada diri Anda untuk bermimpi.
Nah, Anda
sudah belajar bahwa kegagalan memiliki sisi-sisi tertentu, dapat dimanfaatkan
atau dapat pula menghancurkan. Satu hal yang dapat Anda pegang, Anda pastilah
JAUH LEBIH BESAR dari kegagalan Anda, untuk tidak mengulanginya lagi atau
bahkan mengambil keuntungan dari kegagalan itu, menjadikannya momentum dahsyat
mengenali diri sendiri dan hidup bahagia dengan diri Anda yang sebenarnya.
Guru saya
pernah mengajarkan untuk memaafkan guna mendapatkan kebebasan mental spiritual.
Sekarang saya minta Anda untuk melakukan hal yang sama.
Latihan 2
Pikirkan satu kegagalan sangat besar yang
pernah Anda alami, visualisasikan dalam benak Anda, dan hayati kembali. Tegangkan
otot-otot tubuh Anda bersamaan dengan emosi Anda yang semakin meninggi. Anda
bisa memikirkan penyebab kegagalan itu dan juga rasa-pedih-lukanya. (Anda boleh
mengumpat dalam hati, atau menangis perlahan). Anda bisa memikirkan orang-orang
di sekeliling Anda, orang-orang yang memiliki andil, atau bahkan menjadi
penyebab kegagalan itu. Anda bisa mengumpati kebodohan diri. Hayati, rasakan
emosinya tanpa berpikir, rasakan saja. Sekarang kendorkan otot-otot Anda mulai
dari kaki hingga kepala, sembari perlahan-lahan lepaskan emosi Anda. Sekarang
tubuh Anda terasa relaks dan pikiran Anda mulai merasa tenang.
Pikirkan bahwa dari semua kegagalan dan
kebodohan Anda, Tuhan masih menyelamatkan Anda, sehingga pantas Anda merasa
terharu untuk mensyukuri itu. Dengan rasa haru dan kesyukuran itu, sekarang
MAAFKAN DIRI ANDA. Maafkan kegagalan itu, maafkan semua kesalahan dan kebodohan
Anda. MAAFKAN SEMUA ORANG yang mungkin menjadi penyebab kegagalan itu. MAAFKAN
DUNIA yang membawa kejadian mengerikan itu pada Anda. MAAFKAN SEMUANYA, untuk
menjadi PRIBADI YANG MERDEKA.
MENCARI MAKNA
Sukses kerap kali
diidentikkan dengan “memiliki”: memiliki rumah yang megah, memiliki kendaraan
mewah, memiliki asisten pribadi, dan lain sebagainya, berbagai hal yang
memiliki makna material. Sering juga saya dengar gurauan “kalau saya yang
penting kepribadian sih Pak”, ungkap seorang gadis ketika ditanya mengenai kriteria
pemuda idaman, ungkapan yang seolah menunjukkan prioritas pada
sikap-sifat-proses kemenjadian. Anda tentu sudah tahu lanjutan perkataan gadis
itu, “…maksudnya sih, apa ada rumah pribadi, kolam renang pribadi, kendaraan
pribadi, dan lain-lain”.
Sebuah survey berbasis
statistik dilakukan terhadap 7.948 murid pada 48 colleges di Amerika Serikat, yang dilakukan oleh ilmuwan sosial
dari Universitas John Hopkins. Laporan awal mereka merupakan bagian dari
penelitian dua tahun yang didukung oleh National Institute of Mental Health. Kepada
para murid itu ditanyakan apa yang mereka anggap “paling penting” bagi mereka,
16 persen dari murid memilih “menghasilkan banyak uang”; 78 persen menyatakan
tujuan utama mereka adalah “menemukan tujuan dan makna hidup”.[3]
Ketika seseorang
bertanya kepada Einstein, pertanyaan apa yang akan ia ajukan kepada Tuhan bila
dia dapat mengajukan pertanyaan itu, dia menjawab, “Bagaimana awal mula jagad
raya ini? Karena segala sesuatu sesudahnya hanya masalah matematika.” Tapi
setelah berpikir beberapa saat, dia mengubah pikirannya, lalu bilang, “Bukan
itu. Saya akan bertanya, ‘kenapa dunia ini diciptakan?’ Karena dengan demikian
saya akan mengetahui makna hidup saya sendiri.”[4]
Lalu apa itu makna
hidup yang untuk seseorang? Victor Frankl menjelaskan bahwa makna hidup
berbeda-beda dari satu orang kepada orang yang lain, berbeda dari hari ke hari,
dari jam ke jam. Karena itu yang penting bukanlah makna hidup secara umum,
namun makna hidup secara khusus seseorang pada saat itu. Mengibaratkan dengan
bermain catur di mana tidak pernah ada langkah yang terbaik terlepas dari
situasi, demikian juga dengan makna hidup. Karena itu tidak perlu bagi
seseorang untuk mencari makna hidup yang abstrak. Setiap orang memiliki
kesempatan atau misi khusus dalam kehidupan untuk memenuhi tugas nyata yang
harus dipenuhi. Karena itu tugas setiap orang adalah unik seperti peluang
spesifik untuk mengimplementasikannya.[5]
Makna kita berasal dari
dalam. Kembali, dalam kata-kata Frankl, “Akhirnya, manusia tidak boleh
menanyakan apa makna dari hidupnya, tetapi ia harus sadar bahwa dialah yang
ditanya. Singkatnya, tiap orang ditanyai oleh hidup; dan ia dapat menjawab
kehidupan melalui kehidupannya sendiri; kepada kehidupan ia hanya dapat memberi
respon dengan bertanggung jawab.”[6]
Bertanya kepada kehidupan kita sendiri, dengan sungguh-sungguh: “Maka apakah
mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu
mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat
mendengar? Karena sesungguhnya, bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta
adalah hati yang ada dalam dada.”[7]
Kehidupan adalah
pertanyaan sekaligus jawaban atas makna yang didambakan, karena itu umpan balik
dari kehidupan menjadi relevan untuk dimengerti. Berikut beberapa catatan dari
NLP mengenai bagaimana memperlakukan umpan balik untuk sukses.[8]
Prinsip
1,
Umpan balik merupakan fondasi dari kesuksesan. Dibagian atas kita telah belajar
bahwa dari kegagalan kita dapat belajar banyak hal. Karena kegagalan tentu saja
rasanya pahit, namun seperti obat rasa pahit itu dapat menyembuhkan. Meski
demikian, sama pentingnya bagi kita untuk mendapatkan masukan dan umpan balik
dari keberhasilan. Bagaimana caranya? Tanyakan pada diri Anda bagaimana
tepatnya Anda melakukan pencapaian tersebut. Cari tahu dari kata-kata tanya ini
dan jawablah secara akurat serta spesifik: apa, bagaimana, kapan, dimana.
Cobalah untuk lebih banyak fokus pada keberhasilan daripada kegagalan, fokus
pada apa yang dapat dilakukan daripada yang tidak dapat dilakukan. Fokus pada
apa yang tidak dapat membuat kita tidak bergerak.
Prinsip
2,
Kegagalan hanyalah sebuah umpan balik saja. Kalimat tersebut adalah merupakan
reframing yang bagus dari kegagalan. Dari kegagalan Anda dapat belajar banyak.
Kegagalan adalah feedback mengenai salah satu bagian dari sistem yang bekerja
tidak bersesuaian dengan tujuan Anda. Anda perlu merasa ingin tahu dengan hal
tersebut. Tanyakan bagaimana, apa, kapan, dan dimana Anda mengalami kegagalan
tersebut. Bertanya dengan mengapa setelah suatu kejadian kegagalan biasanya
kurang berguna karena cenderung membuat kita menjadi defensive.
Prinsip
3,
Gunakan beragam jenis umpan balik, baik dari dalam maupun dari luar.
Prinsip
4,
Contrastive Analysis. Carilah the
difference that makes the difference. Dalam mengumpulkan informasi, penting
sekali untuk memperhatikan detail. Ketika membandingkan dua peristiwa atau
proses yang tampaknya serupa tapi hasilnya berbeda, penting sekali untuk
mencari perbedaan antar kedua hal tersebut, dan kemudian menemukan mana dari
kedua peristiwa tersebut yang merupakan kunci bagi perbedaan hasil.
JENDELA MASA DEPAN
Bolehkah memiliki
pengharapan atas masa depan? Tentu saja, karena firman Tuhan, “dan janganlah
berputus asa dari rahmat Allah”,[9]
memberi pengertian untuk memiliki pandangan positif terhadap masa depan, yang
tentu saja kemudian perlu diwujudkan dalam kerja keras agar apa yang disebut
sebagai “penciptaan pertama” yaitu visi kita dapat maujud dalam “penciptaan
kedua” yaitu penciptaan fisik.[10]
Tidak harus berpaham deterministik untuk mengetahui bahwa apa yang kita lakukan
hari ini memiliki potensi untuk memberikan hasil di masa yang akan datang.
Menanam padi hari ini, tiga bulan kemudian memetik hasilnya.
Stephen R. Covey
mengungkapkan, visi berarti melihat keadaan masa depan dengan mata batin kita,
dengan pikiran kita. Visi adalah imajinasi terapan. Semua hal diciptakan dua
kali: pertama, merupakan ciptaan pikiran; kedua, ciptaan fisik, dalam wujud
bendanya. Ciptaan pertama, yaitu visi, adalah awal dari proses penemuan diri,
atau proses penemuan diri organisasi. Visi mewakili keinginan, impian, harapan,
tujuan, dan rencana. Tetapi impian atau visi itu bukan hanya sekedar fantasi.
Visi adalah realitas yang belum benar-benar terwujud secara fisik; seperti
cetak biru dari sebuah rumah sebelum rumah itu dibangun, atau notasi musik yang
menunggu untuk dimainkan.[11]
Menarik sekali ungkapan
selanjutnya dari Stephen R. Covey (2005) mengenai visi ini. “Mungkin visi yang
paling penting adalah mengembangkan pemahaman mengenai diri sendiri, pemahaman
mengenai garis hidup Anda, pemahaman mengenai misi hidup anda dan peran unik
anda dalam hidup ini, pemahaman mengenai tujuan dan makna hidup. Ketika menguji
visi pribadi anda, pertama-tama tanyakan kepada diri anda: apa visi itu ada
kaitan erat dengan suara panggilan jiwa saya, energi saya, bakat unik saya? Apakah
dengan visi itu saya merasa punya panggilan tertentu, suatu alasan atau tujuan
yang pantas mendapat komitmen dari diri saya? Untuk mendapatkan makna seperti
itu kita dituntut untuk melakukan renungan yang mendalam, mengajukan pertanyaan
yang mendalam dan membayangkannya dalam penglihatan batin kita.”
Latihan 3
Latihan ini perlu
dilakukan dengan hati yang bening dan tenang, ditandai dengan pernafasan yang
ringan, tenang dan teratur dan peredaran darah yang tenang. Dengan
mempertimbangkan seluruh kondisi anda, apa yang benar-benar anda inginkan dalam
hidup?
Latihan 4
Langkah konkret apa
yang dapat anda lakukan sekarang
untuk mencapai keinginan anda tersebut?
[1] Stephen H. Wolinsky.
2000. The Beginner’s Guide to Quantum Psychology. Holland: Cordon Art BV
[2] Prinsip-prinsip diambil
dari Ian Mc. Dermot & Wendy Jago. 2002. The NLP Coach, A Comprehensive
Guide to Personal Well-Being & Professional Success. London: Judy Piatkus
[3] Victor Frankl. 1984.
Man’s Search For Meaning. New York: Washington Squares Press.
[4]
Ibid
[5] Ibid
[6] Ibid
[7] Q.S. 22: 46
[8] Op.Cit. Ian Mc. Dermot
& Wendy Jago
[10] Terminologi yang
digunakan Stephen R. Covey. 1997. The Seven Habits of Highly Effective People.
Jakarta: Binarupa Aksara., dalam kebiasaan keduanya yaitu mulai dengan akhir
dalam pikiran (begin with the end on the mind).
[11] Stephen R. Covey. 2005.
The 8th Habit, Melampaui Efektivitas, Menggapai Keagungan (terj).
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
KALAU anda bodoh sia-sia saja saya menjawab
BalasHapusKALAU anda pintar pasti sudah punya jawabnya
jadi bagaimanapun kondisi anda, saya tidak bisa membantu menjawab
Tentu saja
BalasHapusSoalnya saya juga sedang sibuk berlatih
asslamu'alaykum Pak saya iis fitriatun G0110031 sudah mengirimkan tugas Modifikasi Perilaku tentang Kontrol Stimulus ke email Bapak. terimaksih :)
BalasHapusassalamu'alaykum Pak, saya Iis Fitriatun G0110031 sudah mengirimkan tugas rancangan program ke email Bapak. Terima kasih.
BalasHapus