Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014
Never Give Up Nugraha Arif Karyanta  Pecinta alam di tempat saya dulu kuliah memiliki semboyan itu “never give up”, kira-kira berarti “pantang menyerah”. Kredo itu tentu saja adalah miliknya sang climbers atau pendaki sejati yang akan memandang hambatan sebagai tantangan yang harus ditaklukkan, demikian mengutip tipologi Paul G. Stoltz (2005) dalam buku  fenomenalnya Adversity Quotient .  Selain climbers , Stoltz juga memiliki 2 model tipe lain yaitu campers yang cepat puas dengan pencapaiannya, dan quitters yang terlalu mudah menyerah. Bagi orang-orang seperti saya yang memiliki kapasitas fisik terbatas, naik gunung selalu bukan acara main-main. Sebut saja telapak kaki yang terasa ditusuk-tusuk batu, lutut berasa hendak copot, kentol dan bagian lain kaki yang kram, paha yang kemeng- nya minta ampun, pinggang yang mau copot, dada sesak rebutan oksigen dan macam-macam masalah fisik lain. Belum lagi kalau kehujanan, kehabisan bekal, atau tersesat, dan berba...
HIGHLANDER Jika foto ini mengingatkan Anda pada Highlander, Anda tidak salah. Hari-hari saya berjumpa dengannya memang Ia sedang mengembara di pegunungan tinggi, mempertahankan diri dari sergapan alam yang buas. Meski tidak sekejam Kurgan yang ingin memenggal kepalanya dan mengancam keabadiannya, setidaknya udara dingin mampu membekukan sumsum tulang. Dan Anda lihat, ia makan seperti gelandangan kelaparan, menunjukkan tingkat kehidupan yang sangat rendah, hampir-hampir saja seperti ia terkalahkan terpancung oleh Kurgan. Dalam versi ini, Highlander memang makan nasi bungkus dan pake tangan (jw = muluk). Lalu kemana jurus pedangnya? hiaaatttttt........ Tapi kalau Ia adalah Highlander, maka saya pastilah Timur Khan yang kekuasaannya melingkupi daratan yang sangat luas. Sayang, Timur Khan kali ini tampak terlalu lembut dan terlalu sering nyengir. Atau lebih tampak seperti tentara nipon yan? Dan ini pastilah The Rock, sedikit pitingan, ...
GANDHIK Nugraha Arif Karyanta Kucing-kucing itu lagi.  Malam-malam begini begitu ribut; saling mengeong, saling mengejar (Dan kalau sampai atap seng di atas wc belakang rumah menimbulkan suara hingar bingar seperti suara ranjau meledak), dan entah saling apa lagi.  Pak tua itu belum dapat memejamkan matanya juga.  Beberapa bulan ini ia sukar tidur, segera terbangun begitu mendengarkan sedikit suara berisik, dan tidak tidur lagi hingga dini hari.  Penyakit tua , pikirnya, dan kalau susah tidur seperti itu ia akan mengambil album foto satu-satunya yang ia punyai, mengenang ketika ia masih muda. Sesungguhnya ia belum tua benar.  Kalau ingatannya tidak salah, beberapa bulan lagi baru ia genap berumur lima puluh tahun.  Tapi ia tidak yakin, karena baginya hari-hari sudah hampir sama, apalagi setelah ia pensiun –mengundurkan diri lebih tepatnya- dua tahun lalu.  Cukuplah selama ini ia hidup dari hasil kerjanya selama lebih dua puluh tahun.  Ia ...