Never Give Up Nugraha Arif Karyanta Pecinta alam di tempat saya dulu kuliah memiliki semboyan itu “never give up”, kira-kira berarti “pantang menyerah”. Kredo itu tentu saja adalah miliknya sang climbers atau pendaki sejati yang akan memandang hambatan sebagai tantangan yang harus ditaklukkan, demikian mengutip tipologi Paul G. Stoltz (2005) dalam buku fenomenalnya Adversity Quotient . Selain climbers , Stoltz juga memiliki 2 model tipe lain yaitu campers yang cepat puas dengan pencapaiannya, dan quitters yang terlalu mudah menyerah. Bagi orang-orang seperti saya yang memiliki kapasitas fisik terbatas, naik gunung selalu bukan acara main-main. Sebut saja telapak kaki yang terasa ditusuk-tusuk batu, lutut berasa hendak copot, kentol dan bagian lain kaki yang kram, paha yang kemeng- nya minta ampun, pinggang yang mau copot, dada sesak rebutan oksigen dan macam-macam masalah fisik lain. Belum lagi kalau kehujanan, kehabisan bekal, atau tersesat, dan berba...
Menjadi pribadi optimis, mengoptimasikan diri