GANDHIK
Nugraha Arif Karyanta
Kucing-kucing itu lagi.
Malam-malam begini begitu ribut; saling mengeong, saling mengejar (Dan
kalau sampai atap seng di atas wc belakang rumah menimbulkan suara hingar
bingar seperti suara ranjau meledak), dan entah saling apa lagi. Pak tua itu belum dapat memejamkan matanya
juga. Beberapa bulan ini ia sukar tidur,
segera terbangun begitu mendengarkan sedikit suara berisik, dan tidak tidur
lagi hingga dini hari. Penyakit tua, pikirnya, dan kalau susah
tidur seperti itu ia akan mengambil album foto satu-satunya yang ia punyai,
mengenang ketika ia masih muda.
Sesungguhnya
ia belum tua benar. Kalau ingatannya
tidak salah, beberapa bulan lagi baru ia genap berumur lima puluh tahun. Tapi ia tidak yakin, karena baginya hari-hari
sudah hampir sama, apalagi setelah ia pensiun –mengundurkan diri lebih
tepatnya- dua tahun lalu. Cukuplah
selama ini ia hidup dari hasil kerjanya selama lebih dua puluh tahun. Ia ingin hidup tenang saja. Kadang-kadang ia menerima kiriman dari
anaknya satu-satunya yang bekerja di sebuah perusahaan asing di Kalimantan,
sudah menikah dan memberikan cucu laki-laki yang selalu ia bawa pada saat
lebaran. Isterinya sudah meninggal
sepuluh tahun yang lalu karena kanker otak.
Sebenarnya kehilangan isterinya itulah yang membuat ia mulai begitu
berat untuk bekerja. Ia kehilangan arti
pekerjaannya yang begitu menjemukan, rutinitas hari-hari yang melelahkan,
hingga dua tahun lalu ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Harinya ia lalui dengan perkutut, koran, dan
kadang-kadang pergi ke perpustakaan daerah untuk meminjam novel-novel. Sayang, perpustakaan itu hanya menyediakan
bacaan-bacaan ringan saja, dan hanya sedikit memilik koleksi
pengarang-pengarang besar. Kadang-kadang
juga anaknya mengiriminya beberapa bacaan bermutu kalau ia sedang singgah di
Singapura. Begitulah hari-harinya,
begitu-begitu saja. Mula-mula ia memang
senang dengan rutinitas barunya itu, tanpa tekanan pekerjaan dan terasa begitu
santai. Tapi entahlah, minggu-minggu ini
ia rasai lagi kejemuan.
Anaknya pernah
menganjurkannya untuk menikah lagi, bahkan menawarkan beberapa pilihan baginya,
mulai dari Bu Ranti, janda yang hanya selisih tiga tahun dari usianya, Rosda,
janda kembang beranak satu anak Kyai kondang yang ditinggal lari oleh suaminya,
sampai Fatimah yang masih perawan. Tapi
sampai saat itu, ia masih menolaknya.
Bayangan isterinya masih memegang ujung benaknya. Bangga benar ia akan anaknya, begitu
perhatian kepadanya. Rasanya tidak
sia-sia memperlakukannya dengan keras setelah ibunya meninggal melihat ia
berhasil seperti sekarang ini.
Lagi-lagi kucing-kucing itu. Suara eongannya terdengar begitu nyata, saat
malam seperti ini dimana suara obrolan tetangganya bahkan dapat terdengar
jelas. Mereka pasangan muda, dan
malam-malam begini mereka akan mempercakapkan apa saja perjalanan mereka
seharian itu. Kadang-kadang pekerjaan,
harga-harga pasar, impian-impian mereka, atau menggunjing tetangga-tetangga
saja. Ada sekali dua ia mendengar
namanya mereka sebut dalam gunjingan itu, namun rasanya tidak pernah penting
benar. Lalu biasanya akan disusul dengan
bunyi erangan-erangan, bunyi-bunyian yang dulu selalu membuatnya merasa lebih
perkasa ketika dikeluarkan oleh isterinya.
Eongan-eongan itu, pada musim-musim basah seperti ini
lebih sering ia dengar. Rasa-rasanya
sekarang bahkan ia bisa membedakan bunyi-bunyian itu. Dengarlah eongan itu, lebih berat dan sedikit
lebih panjang, pasti itu suara kucing laki-laki. Mungkin kucingnya Pak Darmo pemilik warung
depan rumah, atau kucing Mas Sanadi yang tinggal membujang saja hingga usianya
yang ke tiga puluh. Lalu dibalas dengan
suara eongan yang lebih lirih dan agak pendek, agaknya suara kucing
perempuan. Coba dengarkan lagi, itu
pasti suara kucing laki-laki itu juga, namun kali ini lebih keras dan lebih
panjang. Lalu dibalas dengan sahutan
yang lebih keras pula. Dan kedua ekor
kucing itu saling bersahut-sahutan, lalu berkejar-kejaran sambil masih terus
mengeong.
Sudah bertahun-tahun ia mendengarkan eongan-eongan
seperti itu. Tapi malam ini suara mereka
terasa lebih nyata, kadang terdengar seperti kegairahan, namun kadang juga
seperti kepiluan mendesak-desak.
“Kemarilah, aku cinta kamu,” eongan ini terdengar agak
lembut, suara kucing laki-laki itu.
“Pss, dasar pembohong!” kali ini dibalas dengan ketus.
“Sungguh, aku cinta kamu!”
“Lalu mengapa kamu dekat-dekat dengan kucing genit milik
Yu Par itu!”
“Memangnya kenapa kalau aku dekat dengan kucing Yu Par?”
“Dasar kucing bandhot!”
Lalu keheningan sejenak.
Suara angin menyapu daun-daun, suara jengkerik dari lapangan bola, dan
derum motor dari kejauhan.
“Sudahlah, jangan merajuk begitu.” Agaknya mereka berpindah tempat, kali ini di
atas ruang tamu.
“Siapa merajuk?”
“Kemarilah.
Tidakkah kau ingat saat-saat kita jumpa pertama kali?”
“Ada apa dengan saat pertama kita jumpa?”
“Tidakkah kau ingat?
Malam itu seperti saat ini, aku ingat benar. Rembulan yang hanya separuh, udara basah, dan
kesunyian yang menggairahkan!”
“Menggairahkan untukmu tentunya.”
“Tentu saja, untuk kita.”
Mereka diam lagi, hanya hembusan nafas mereka saja yang
terdengar mengalahkan keheningan.
“Aku ingin kita seperti malam itu lagi,” kali ini kucing
laki-laki itu mengeong pelan namun begitu mendesak.
“Ingin apa?” kucing perempuan itu masih berpura-pura.
“Sudahlah. Kemarilah, aku ingin menciummu.”
“Enak saja. Lalu
kucingnya Yu Par itu?”
“Sumpah mati! Aku tidak ada apa-apa dengan kucingnya Yu
Par. Masak berkawan saja tidak boleh?”
“Cis, pendusta!”
“Aku ingin menciummu.”
“Hmfff”
Kucing laki-laki itu mendekati kucing perempuan. Kucing perempuan itu berlari menjauh, namun
bokongnya memperlihatkan tanda bahwa ia menginginkannya juga. Keduanya berkejaran lagi.
Pak
Tua itu begitu merasa kesepian malam ini.
Hening benar memang, apalagi setelah dua ekor kucing itu pergi. Aneh, hanya dua ekor kucing gandhik, dan
membangkitkan lagi rasa sepi dan kenangan-kenangan. Ia membuka-buka lagi album tuanya. Ia, isterinya dan anaknya. Tidak ada yang abadi memang. Ia dulu begitu muda dan begitu perkasa, namun
kini sudah begitu ringkih. Isterinya,
kini sudah meninggalkannya karena kanker otak itu, dan anaknya begitu jauh
darinya, meski ia mengerti bahwa anaknya begitu menyayanginya.
Gambar
dirinya dan isterinya waktu pertama kali bertemu, bersama dengan beberapa orang
kawan mereka. Foto itu sudah begitu
kusam, namun Pak Tua itu masih bisa melihat wajah isterinya begitu cantik. Waktu itu ia masih begitu muda dan begitu
antusias merengkuh kehidupan. Mereka
bertemu pada suatu kongres di Kaliurang, ia semester 5 dan isterinya semester
tiga. Mereka suka berdebat. Isterinya sedang aktif-aktifnya dengan
kesetaraan gender, dan Pak Tua itu tidak terlalu tertarik dengan materi itu
karena baginya kesetaraan itu tak perlu diperbincangkan lagi. Ia ingat saat itu Latif, salah seorang kawannya
yang ikut kongres, mengeluh karena ia merasa sudah malas untuk mencuci baju.
“Menikah
saja kalau begitu,”ia memberi saran sambil bergurau.
“Mengapa
menikah?” tanya Latif
“Yah,
biar ada yang mencucikan bajumu.”
“Memangnya
mau mencari isteri atau tukang laundry”, sebuah suara tiba-tiba menyeruak dari
belakang. Nita. Rupanya ia mendengarkan percakapan
itu. Latif tertawa, hampir terbahak-bahak
melihat kekikukan Pak Tua (Pada saat itu masih muda).
“Memangnya
ada apa kalau seorang isteri mencuci baju?” jawab Pak Tua.
“Bukan
itu masalahnya. Kau hendak mencari
isteri atau tukang laundry? Kau hendak
mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga atau mencari pasangan, kekasih?”
ujarnya berapi-api.
“Mengapa
kau buta dengan realitas kultural. Kami,
laki-laki juga mesti menanggung beban lain, yang mungkin juga lebih berat dari
perempuan” begitulah, lalu mereka berdebat begitu seru. Perkenalan mereka memang tidak begitu
romantis menurut Pak Tua itu, namun itu pulalah yang membuat ia bisa
menghubungi Nita setelah pulang ke Yogya.
Dan setelah mereka menikah pun, ia tidak keberatan untuk turut mencuci
baju-baju mereka.
Suara
gedubrakan dari atap WC mengagetkannya.
Dua ekor kucing itu lagi.
“Mengapa
kamu mengikuti aku terus?”
“Pantatmu
begitu indah.”
“Mengapa
pantatku? Apakah hidungku tidak indah?”
“Hidungmu
juga indah”
“Alisku?”
“Alismu
juga indah”
“Buluku?”
“Bulumu
halus dan lembut seperti beludru, tubuhmu seksi bak artis luar negeri, matamu
sewarna tujuh pelangi,...”
“Indah
mana dengan kucing Yu Par?”
“Sudahlah,
aku bosan dengan percakapanmu tentang kucing Yu Par itu!”
“Begitu
ya. Kamu bosan setelah mendapatkan yang
kamu mau kan? Setelah membuntingi aku,
kau juga akan meninggalkan aku, begitu?”
“Aku
tidak akan begitu!”
“Aku
harus terlunta-lunta sepanjang gang dan lorong gelap dan sepi...”
“Aku
tidak akan meninggalkanmu!”
“...Lalu
aku yang harus membesarkan anak-anak kita sendirian”
“Tidak
akan begitu, sayang! Aku
mencintaimu. Aku juga akan besarkan
anak-anak kita. Dengan didikanku dan
kasih sayangmu, anak kita akan menjadi kucing paling bandhot di seluruh lorong
ini. Pikirkan itu, apakah kamu tidak
bangga menjadi ibu begitu mulia?”
“Jangan
bawa-bawa kemuliaan itu untuk menipuku”
“Aku
tidak menipumu, aku benar-benar cinta kamu”
“Benar?”
“Sungguh!”
Kucing
betina itu nampaknya sudah mau menyerah.
Ia tidak lari lagi ketika kucing jantan mendekatinya. Ekornya mulai terkulai. Matanya berbinar dalam kegelapan malam.
“Tunggu
dulu,” ia menghindari kucing jantan yang sudah hendak menjilati bulu-bulunya.
“Ada
apa lagi?” kucing jantan itu bertanya, agak kecewa karena harus menahan
hasratnya.
“Dan
kamu mau mencarikan aku tempat berteduh yang menyenangkan?”
“Tentu
saja, istana kalau perlu!”
“Kamu
juga menjamin bahwa aku tidak akan pernah kelaparan?”
“Apapun
yang kamu minta”
“Juga
pendidikan untuk anak kita?”
“Anak
kita akan mendapatkan yang paling baik yang bisa didapatkan seluruh anak kucing
di lorong ini”
“Kesejahteraan
keluarga kita?”
“Tidak
perlu khawatir, semuanya aku jamin.
Semua aku asuransikan, bahkan cintaku aku asuransikan”
“Juga
obat kutu untuk buluku yang indah ini?”
“Apa
saja. Dasar betina matre!” gerutu kucing
jantan pelan.
“Aku
tidak matre. Aku hanya realistis
saja. Apakah kau pikir kita cukup hidup
dengan cinta? Apa kau juga tidak sayang
kalau hanya karena kamu tidak menyediakan obat kutu, buluku menjadi tidak indah
lagi? Apakah kau juga cinta padaku
seandainya buluku tidak seindah ini?” kucing betina itu agak tersinggung. Kucing jantan itu jadi kebingungan. Ia hanya terdiam saja sebentar. Tapi hasratnya sudah begitu menyala,
selangkangannya terasa hangat.
“Baiklah,
aku akan curikan obat kutu untuk bulumu yang indah itu,” ujarnya sambil kembali
mendekati kucing betina.
“Benar?”
tanya kucing betina.
“Sungguh!”
“Dan
kamu tidak akan pernah meninggalkan aku?”
suara kucing betina itu menjadi semakin lirih.
“Engkau
adalah hidup dan matiku. Engkau adalah
keindahan abadi untukku. Mendampingimu
setiap saat merupakan kebahagiaan tiada terkira untukku”
Hmff!”
kucing betina itu agak jual mahal, tapi ia diam saja ketika kucing jantan itu
mulai menjilati bulu-bulunya.
Pak
Tua menyalakan rokoknya. Sebentar ia
mendengar suara lolongan anjing di kejauhan.
Rasanya begitu memilukan. Ia
keluar sebentar memandang rembulan, sambil membayangkan ia menjadi anjing tua
yang melolongi bidadari yang duduk di bawah pohon di bulan sana. Ia gelisah benar, tapi tak terlalu yakin apa
yang harus ia kerjakan. Lalu ia masuk
rumah lagi, dan kembali membolak-balik album foto tuanya. Sesekali, ia masih mendengarkan kedua ekor
kucing itu, bercampur aduk dengan suara pasangan muda di sebelah rumahnya.
bongkar-bongkar arsip lama muncullah tulisan ini.mau menulis yang baru masih terkendala faktor malas, jadi here it is ....
BalasHapuslanjutkan nulisnya...apik lho...tau gitu dr dulu kursus nulis privat dg mas nug...kl srh ngarang aku paling tdk bisa...:)
BalasHapuslanjutkan nulisnya...apik lho...tau gitu dr dulu kursus nulis privat dg mas nug...kl srh ngarang aku paling tdk bisa...:)
BalasHapuslanjutkan nulisnya...apik lho...tau gitu dr dulu kursus nulis privat dg mas nug...kl srh ngarang aku paling tdk bisa...:)
BalasHapus