Never
Give Up
Nugraha Arif Karyanta
Pecinta alam di tempat saya dulu kuliah memiliki semboyan itu “never give up”,
kira-kira berarti “pantang menyerah”. Kredo itu tentu saja adalah miliknya sang
climbers atau pendaki sejati yang
akan memandang hambatan sebagai tantangan yang harus ditaklukkan, demikian
mengutip tipologi Paul G. Stoltz (2005) dalam buku fenomenalnya Adversity Quotient. Selain climbers,
Stoltz juga memiliki 2 model tipe lain yaitu campers yang cepat puas dengan pencapaiannya, dan quitters yang terlalu mudah menyerah.
Bagi
orang-orang seperti saya yang memiliki kapasitas fisik terbatas, naik gunung
selalu bukan acara main-main. Sebut saja telapak kaki yang terasa ditusuk-tusuk
batu, lutut berasa hendak copot, kentol
dan bagian lain kaki yang kram, paha yang kemeng-nya
minta ampun, pinggang yang mau copot, dada sesak rebutan oksigen dan
macam-macam masalah fisik lain. Belum lagi kalau kehujanan, kehabisan bekal,
atau tersesat, dan berbagai perkara lain yang gak pernah terpikirkan sebelum
naik. Bagi Anda yang belum suka naik gunung, barangkali ini malah jadi demotivasi yah… Yah terserah Anda saja, tapi saya tetap
mencintai kegiatan itu dengan segala kecapekannya.
Tanggal
29 – 30 Maret 2014 kemarin, seminggu yang lalu dari mengetik tulisan ini, saya
naik gunung, biasa Gunung Lawu favorit saya, soalnya rumah saya Karanganyar.
Sengaja saya paksa rombongan untuk packing
sehari sebelumnya supaya pada hari H tinggal berangkat karena sebelumnya sering
sudah kecapekan untuk persiapan packing.
Kami berangkat berenam: saya Timur Khan, Duncan McLeod Highlanders, Chun Li
Street Fighters, Noora The Loving dari The 99, The Rock dan Tin Tin yang tidak
disertai Snowy. Sepeda motor kami titip di Pos Cemoro Kandang, kemudian kami
beranjak ke Cemoro Sewu untuk naik dari sana.
Dari
pos Cemoro Sewu kami beranjak, saya merasa bersemangat. Puff naik gunung puff
naik gunung puff naik gunung begitu sorai hati saya. Masalahnya tubuh saya
tidak terlalu kompak: otak saya yang bersemangat kurang dibarengi dengan dada
yang tegar, jadinya belum beberapa ratus meter saya mesti mengambil istirahat.
Beberapa puluh meter berikutnya dada ditemani kaki yang mulai menegang. Tapi
terus saja meskipun tertinggal dari para superhero lain saya berjalan, nggak
apa-apa lah berjalan sesuai dengan pacu sendiri. Dan horeee, Pos 1, dan di Pos
1 Cemoro Kandang itu ada yang jualan. Jadilah kami berhenti dulu makan gorengan
dan es teh, mmm gak pernah ada yang mengalahkan nikmatnya istirahat ketika
capek.
Perjalanan
ke pos 2 menjadi perjalanan yang semakin berat; jalan semakin menanjak meskipun
masih ditata rapi dengan pecahan-pecahan batu. Keringat saya menetes semakin
deras, protes dari kaki, dada, pinggang dan kepala semakin nyaring. Saya mulai
menghitung per 50 langkah kaki berhenti. Aduuuh, jurus apalagi yang bisa saya
pakai. Untung para superhero lain cukup sabar menunggu saya, kecuali Duncan
McLeod yang ongap-angop berkali-kali. Noora the loving dan Tin Tin juga mulai
pucat mukanya.
Saat
itu libur panjang sehingga jalur pendakian yang kami lewati sangat ramai dengan
orang-orang yang ingin melihat sunrise
dan sunset di Puncak Lawu. Kami
saling menyapa, dan para pendaki yang turun biasa mengatakan: semangat pak.
Begitu pula dengan teman-teman yang lebih muda: ayo pak, semangat. Masuk ke Pos
3 sudah ramai dengan pendaki yang beristirahat, salah seorang dari mereka
berteriak: semangat pak. Saya jawab: semangatnya sih masih banyak, dengkulnya yang
gak mau kompromi; yang disambut dengan tawa beberapa orang.
Perjalanan
ke Pos 4 betul-betul menjadi partai neraka. Saya tidak lagi bisa mempertahankan
strategi 50 hitungan, kadang berubah menjadi 20 hitungan atau bahkan 10
hitungan istirahat. Diantara deru nafas, keringat yang mengucur, dan kaki yang
mulai kram, otak saya berteriak: Never Give Up. Saya lihat jalanan di depan, menetapkan
beberapa hitungan, atau kadang suatu titik pandu, lalu berjalan setapak demi
setapak. Di tengah perjalanan saat duduk istirahat lutut sebelah kiri
bergerak-gerak sendiri, saya tidak berdaya mengontrolnya. Saya cuma bisa
menepuk-nepuk lutut itu, dan beberapa bagian kaki lain, lalu berdoa menurut
yang diajarkan guru-guru saya. Hupf, luar biasa, tapi ajaibnya kaki saya
membaik.
Menuju
pos 5 sebagian besar jalanan sebenarnya sudah cukup landai, mestinya tidak
terlalu menguras tenaga dan emosi kalau saja tubuh sudah keterlaluan penatnya.
Tanjakan sedikit saja begitu terasa. Puh, tapi warung tertinggi di Indonesia
sudah menanti di depan mata, dan tidak perlu memperlambat langkah untuk
mendapatkan teh hangat dan barangkali makanan yang lebih layak dari nasi
bungkus yang kami bawa sedari pagi.
Sampai
di Sendang Drajat matahari sudah siap bersembunyi di pucuk peraduannya. Warung
di Sendang Drajat itu ternyata penuh sesak, hanya sedikit tempat buat duduk,
tapi kami masih beruntung mendapatkan satu spot karena ada satu rombongan
meninggalkan tempat itu. Oya jangan salah ya, warung itu sekarang sudah
memiliki listrik dari mesin genset bensin yang meraung halus dari ruang
seberang warung.
Istirahat
sejenak menikmati nasi pecel telor dengan sedikit sayur tahu yang terasa antara
tidak terlalu enak dan sangat enak karena itu makanan terbaik yang ada disitu,
menikmati teh hangat dan beberapa batang rokok. Enak sekali, pingin tidur
sebenarnya, tapi saya pengin naik puncak argo dumilah, dan kalau memungkinkan
langsung turun (gak terlalu yakin sih). Jadi saya Timur Khan dan Tin Tin
berunding untuk acara naik itu. Ternyata Duncan McLeod Highlander mau ikut juga
untuk naik puncak malam itu juga. Jadilah kami bertiga jam 19 malam itu
bergerak. Sebelum naik kami mampir dulu ke petilasan yang konon merupakan
tempat moksanya Prabu Brawijaya. Setelah sempat menolong satu rombongan yang
kebingungan mencari warungnya Mbok Yem karena gak punya lampu, kami bertiga
bergerak ke puncak.
Perjalanan
ke Puncak cukup curam juga, meski tak sejahanam dari Pos 3 ke Pos 4. Saya cukup
segar setelah istirahat, giliran Tin Tin yang mulai kena kram kaki. Saya sih
setia saja berjalan pelan, soalnya memang capek juga. Tapi Duncan McLeod
terlihat tidak sabar dan berkali-kali menguap tidak sabar. Meninggalkan agak
jauh ia berteriak “will we going or should we go back?”. Saya agak
tersentak, tapi Tin Tin masih cukup bijaksana dengan menjawab santai “we will
go, but slowly please”.
30
menitan kami sampai puncak juga. Tugu di puncak ternyata sekarang sudah dipugar
oleh pihak swasta, dan menjadi klaim milik swasta mestinya karena yang ada
disitu adalah nama perusahaan itu, dan KOPASUS, yang kata beberapa orang adalah
backing perusahaan. Bener enggaknya mana saya tahu. Yang jelas saya nggak suka
tugu itu menjadi “milik” perusahaan atau intitusi tertentu. Beberapa PEMDA yang
memiliki kawasan gunung lawu saja nggak ada yang nge-“klaim”, atau juga
Departemen Kehutanan. Kalau kuat bayar klaim Bulan atau Mars sana.
Untung
saja emosi saya segera kebawa angin dan udara dingin di sana. Sholat jamak
maghrib – isya dan beberapa foto-foto, kami segera turun ke bawah. Sayang saat
hendak turun Duncan McLeod Highlanders menggunakan tata cara dan mantra yang
salah, jadilah kami benar-benar kehujanan saat turun. Karena tidak memakai
mantel, Duncan McLeod memutuskan untuk lari lebih dahulu. Malam itu hujan turun
semalaman, deras, dan memaksa orang-orang untuk masuk warung, sehingga warung
di Sendang Drajat itu begitu padat. Untung sebelumnya kami sudah spotting, sehingga meskipun
berdesak-desak seperti dendeng gepeng masih punya tempat buat merebahkan diri.
Semalaman
itu saya tidur saja, gelisah karena agak merasa ingin buang air kecil tapi
sangat malas keluar karena harus melangkahi banyak orang. Kaki saya berasa
panas dan pegal, juga beberapa bagian tubuh lain. Terbangun tiap satu atau dua
jam, mimpi saya selalu berkata: never give up, never give up, never give up,
never give up.



Komentar
Posting Komentar