THE GREAT
ME
Membaca judul ini mungkin anda terhenyak dan geregetan, tak
sabar untuk menanyakan maksudnya. “Tak ada yang besar dariku,” kata anda,”…Tuhan
yang saja yang besar.” Anda benar, saya tak akan mendebat hal itu. Saya hanya
akan mengutip sebuah cerita, untuk menggelitik pikiran anda.
Seorang master sufi datang ke sebuah desa, dan salah satu
muridnya memutuskan untuk mengunjungi. Muridnya itu mengarungi ratusan mil
padang pasir untuk sampai ke desa kecil itu, tetapi sesampainya di sana tidak
menemukan tempat untuk menambat untanya. Murid itu begitu inginnya untuk
menemui sang guru, sehingga ia begitu saja meninggalkan untanya dan bersegera untuk
menemui gurunya itu. Mereka bercakap selama berjam-jam hingga tiba waktu untuk
sang guru meninggalkan desa tersebut. Menyadari unta muridnya itu tidak
terlihat dimana juga, sang guru bertanya “Di mana untamu?” “Saya tiada temukan
tempat di mana juga untuk menambat unta, karena itu saya serahkan kepada Tuhan
untuk menjaga unta saya,” jawab sang murid. Jawab sang guru “Bagus sekali,
engkau memang harus meninggalkan semuanya kepada Tuhan. Dan tetap menambat
untamu.”
HARGA DIRI
Memiliki self-esteem
yang tinggi secara umum memberikan keuntungan bagi individu, meskipun terdapat
juga catatan mengenai efek buruk dari memiliki self-esteem secara berlebihan
(Baumister, 1998; dalam Heatherton dan Wyland, 2003). Orang dengan self-esteem yang
tinggi diduga akan bahagia dan sehat secara psikologis, sedangkan orang yang
memiliki self-esteem rendah akan mengalami tekanan secara psikologis atau
bahkan depresi. Memiliki self-esteem yang tinggi akan membuat orang melihat
dirinya sendiri dan apa yang terjadi di dalam kehidupannya secara lebih
positif. Mereka merasa puas dengan dirinya sendiri, mampu untuk menyesuaikan
diri secara efektif dengan tantangan dan umpan balik negatif, dan hidup dalam
lingkungan sosial dimana mereka percaya orang lain menghormati dan menghargai
mereka. Orang-orang seperti ini tampaknya memiliki kehidupan yang lebih
produktif dan lebih bahagia. Sedangkan orang dengan self-esteem yang rendah
cenderung melihat diri mereka sendiri dari sudut pandang negatif, sehingga
apapun yang ada dan terjadi di sekitar mereka juga cenderung untuk dilihat
secara negatif. Heatherton dan Wyland (2003) mengemukakan bahwa terdapat
hubungan yang substansial antara depresi, rasa malu, kesepian dan keterasingan.
Lalu apa itu
self-esteem atau harga diri itu? Self-esteem merupakan aspek evaluatif dari
konsep diri yang berhubungan dengan keseluruhan tilikan atas diri sebagai
berharga atau tidak berharga (Baumeister, 1998; dalam Heatherton & Wyland,
2000). Hal ini termaktub dalam definisi klasik atas self-esteem oleh
Coopersmith (1967): Evaluasi yang dibuat dan dipertahankan oleh individu untuk
dirinya sendiri: evaluasi ini mengekspresikan sikap persetujuan dan
mengindikasikan tingkat sejauh mana individu percaya atas kemampuan dirinya,
penting, sukses dan berharga. Pendeknya, self-esteem adalah judgment personal
dari keberhargaan yang diekspresikan dalam sikap yang dipegang individu
terhadap dirinya.
Mruk (2006)
mengungkapkan dua komponen utama yang merupakan pilar bagi self-esteem yaitu
kompetensi (competence) dan keberhargaan (worthiness). Pernyataan Mruk ini
sejalan dengan berbagai konsep self-esteem terdahulu yang diungkapkan oleh
beberapa ahli, diantaranya Nathaniel Branden (1967, 1999) yang menggunakan
istilah self-efficacy dan self-respect. Dalam konsep tersebut Branden (1999)
mengungkapkan self-efficacy sebagai kepercayaan mendasar seseorang dalam
menghadapi tantangan kehidupan, sedangkan self-respect sebagai perasaan
berharga dan memiliki hak untuk mendapatkan kebahagiaan.
Lebih lanjut Branden
(1999) menjelaskan bahwa memiliki efikasi berarti memiliki kemampuan untuk
memproduksi hasil yang diharapkan. Percaya atas efikasi dasar berarti percaya
atas kemampuan kita untuk belajar apa yang kita perlukan dalam belajar dan
melakukan apa yang kita perlukan untuk melaksanakan hal-hal dalam rangka
mendapatkan tujuan kita, sedemikian rupa karena kesuksesan bergantung dari
usaha kita sendiri. Efikasi diri bukanlah keyakinan bahwa kita tidak akan
pernah membuat kesalahan, namun keyakinan bahwa kita mampu berpikir,
mempertimbangkan, mengetahui dan membenahi kesalahan kita. Ini adalah keyakinan
atas proses mental dan keterampilan kita.
Self-efficacy bukanlah
kepastian bahwa kita akan mampu menguasai setiap tantangan dari kehidupan,
namun lebih merupakan keyakinan bahwa kita mampu menguasai prinsip-pinsip
belajar dari hal-hal yang perlu kita pelajari dan bahwa kita berkomitmen untuk
melakukan secara sadar dan rasional untuk menguasai tugas dan tantangan yang
dikehendaki oleh nilai-nilai kita. Self-efficacy lebih dalam dari keyakinan
kita atas pengetahuan dan keterampilan spesifik karena pencapaian dan sukses
masa lalu kita, meskipun jelas bahwa self-efficacy dipengaruhi hal tersebut.
Keyakinan ini yang memungkinkan kita untuk menguasai pengetahuan dan
keterampilan guna menggapai kesuksesan. Self-efficacy ini merupakan keyakinan
atas kemampuan berpikir, dalam kesadaran kita dan bagaimana kita memilih
menggunakanya. Akibatnya, kita menjadi percaya atas proses kita, dan sebagai
konsekuensinya, disposisi untuk mengharapkan kesuksesan atas usaha kita.
Self-respect
sebagaimana diungkapkan oleh Branden (1999) merupakan pengharapan atas
persahabatan, cinta dan kebahagiaan secara alamiah, sebagai hasil atas siapa
kita dan apa yang kita lakukan. Self-respect merupakan keyakinan atas nilai
kita. Konsep ini bukan berarti delusi bahwa kita sempurna atau superior
terhadap orang lain. Ini bukanlah konsep yang bersifat komparatif atau
kompetitif. Ini lebih berarti keyakinan bahwa hidup dan kesejahteraan kita
berharga untuk mendukung, melindungi, dan menumbuhkan; bahwa kita cukup baik
dan berharga serta berhak atas penghormatan dari orang lain; dan bahwa
kebahagiaan dan pemenuhan personal kita cukup penting untuk diperjuangkan.
Self-esteem yang rendah
terbukti memiliki pengaruh terhadap berbagai dimensi kehidupan dalam semua
rentang usia. Leary dan Mac Donald (Mruk, 2006) mengungkapkan bahwa “Orang
dengan trait self-esteem yang lebih rendah cenderung untuk mengalami secara
virtual setiap emosi aversif lebih sering daripada orang dengan self-esteem
lebih tinggi. Trait self-esteem berkorelasi secara negatif dengan skor dalam
pengukuran atas kecemasan (Battle, Jarrat, Smit & Precht, 1988), kesedihan
dan depresi (Hammen, 1988; Quellet & Joshi, 1986; Smart & Walsh, 1993),
perasaan bermusuhan dan kemarahan (Dreman, Spielberger & Darzi, 1997),
kecemasan sosial (Leary & Kowalski, 1995; Santee & Maslach, 1982; Sharp
& Getz, 1996), rasa malu dan rasa bersalah (Tangney & Day, 2000;
Miller, 1995), dan kesepian (Haines, Scalise & Ginter, 1993; Vaux, 1988),
serta afeksi negatif secara umum dan neuroticism (Watson & Clark, 1984)”.
Branden (1994)
menyebutkan bahwa terdapat korelasi positif antara self-esteem yang sehat dan
serangkaian trait lain yang mempengaruhi secara langsung pada kapasitas kita
atas prestasi dan kegembiraan. Self-esteem yang sehat berkorelasi dengan
rasionalitas, realisme, intuitifitas, kreativitas, kebebasan, fleksibilitas,
kemampuan mengatur perubahan, kemauan mengakui (dan membetulkan) kesalahan,
kebaikan hati, dan kerjasama. Self-esteem yang buruk berhubungan dengan
irasionalitas, kebutaan terhadap realitas, kekakuan, ketakutan pada hal baru
dan yang tidak familiar, konformitas atau pemberontakan yang tidak pada
tempatnya, defensiveness, terlalu banyak mengeluh atau perilaku terlalu mengontrol,
dan ketakutan terhadap orang lain atau kekerasan terhadap orang lain. Implikasi
untuk survival, adaptifitas dan pemenuhan personal sangat jelas. Self-esteem
adalah aspek yang mendukung kehidupan dan mengembangkan kehidupan (life
supporting and life enhancing).
Itulah sebabnya
memiliki harga diri merupakan salah satu kunci utama bagi kesuksesan. Satu hal,
karena harga diri juga membuat efektivitas pribadi menjadi lebih baik,
sedangkan hal lainnya adalah bahwa harga dirilah yang juga akan menentukan
patokan atas keberhasilan itu. Coba kita tengok pendapat dari
Neurolinguitik Programming mengenai rahasia kesuksesan dimana harga diri
merupakan salah satu diantara kunci rahasia itu:
Self-esteem. Harga diri merupakan bagian penting dalam
penciptaak kesuksesan anda. Lebih tepat disebut, harga diri itu sendiri sudah
merupakan suatu kesuksesan internal untuk anda. Anda hanya perlu berjuang untuk
melebarkan kesuksesan itu kepada dunia eksternal apabila sudah memiliki harga
diri yang baik. Harga diri berbeda dari kepercayaan diri, ini lebih dalam lagi.
Bahwa pada akhirnya harga diri menciptakan kepercayaan diri anda, betul sekali.
Orang dengan harga diri yang tinggi memiliki perasaan yang kuat akan dirinya;
mereka menyukai dirinya; mereka mengenali dan mengatur kondisi internal; mereka
memiliki tujuan yang jelas. Bagaimana mengembangkan self-esteem: (1)
Berperilaku sebagaimana orang yang memiliki self-esteem yang tinggi – behaving
as if; (2) Memberikan penekanan pada apa yang berhasil; (3) Inventarisasi hal-hal
positif anda; (4) Menerima diri anda apa adanya; (5) Membangun kooperasi antar
bagian internal yang mengalami konflik.
Hubungan positif. Seorang teman saya bilang bahwa abad ini
merupakan “the age of networking” sehingga pemeliharaan atas jaringan kerja
kita merupakan bagian yang penting. Dalam kasus mencari kerja, dapatkah anda
menemukan orang tertentu yang mampu membantu anda? Alumni? Realistik saja, hal
ini seringkali sangat membantu dalam mencari pekerjaan tertentu. Tentu saja
sebelum itu anda perlu memperlihatkan bahwa anda mampu. Selain urusan praktis
itu, membangun hubungan positif juga akan memberikan banyak hal kepada kita.
Hubungan yang positif akan memperkaya kita secara batiniah, karena dari orang
lain kita mendapatkan keceriaan, keriangan dan peneguhan diri. Pribadi kita
mengada dalam hubungan kita dengan pribadi lain. Salah satu hal penting lain mengenai dunia
luar adalah modelling. Teknik ini adalah teknik paling penting dalam NLP,
melihat orang lain yang betul-betul mampu menjadi model kita. Pikirkan:
bagaimana ia bersikap, bagaimana ia berpikir, bagaimana ia merasa, bagaimana ia
berperilaku, bagaimana berbicara. Pikirkan hal tersebut secara detail dan
gunakan contrastive analysis untuk anda.
Memaksimalkan kekuatan otak anda. Apa yang mampu anda lakukan dengan otak anda?
Ada banyak sekali hal yang dapat anda lakukan dengan otak anda. Jaman berubah,
dan era ini telah menegaskan semakin pentingnya otak dalam menentukan
kesuksesan. Bukan hanya kerja keras, hal yang sangat menentukan juga adalah
kerja cerdas. Cari alternatif lain. Cari cara lain. Pikirkan secara berbeda.
Buat lebih. Bagaimana caranya? (1) Cari tahu bagaimana bahwa anda mungkin
memiliki kepercayaan yang secara efektif membatasi kemungkinan apa yang dapat
anda capai; (2) Jadilah lebih kreatif; (3) Tingkatkan kemampuan belajar anda;
(4) Kembangkan memory anda.
Kesehatan, Kemakmuran dan Kebahagiaan. Bagian ini berarti
bahwa anda perlu memperhatikan konservasi diri anda secara fisikal, mental,
spiritual dan interpersonal. Keseimbangan merupakan inti dari kesuksesan yang
berlanjut. Konservasi diri akan membuat pencapaian kita lebih panjang,
menguatkan dan mempromosikan pertumbuhan. Konservasi diri terkait dengan
pilihan, pilihan untuk terlibat dalam berbagai hal yang menurut anda penting
dalam sistem nilai anda.
Buat aktivitas anda memberikan imbalan bagi diri anda. Hal
ini akan membuat hidup anda menjadi lebih hidup. Rayakan kemenangan dan
keberhasilan meskipun itu kecil. Bersyukurlah. Itu satu-satunya cara dapat
hidup bahagia.
Menjadi hidup secara spiritual. Berhentilah mencoba. Hiduplah
pada saat ini. Kembangkan kesadaran anda. Jadilah pribadi yang bersyukur.
CERITA PENUTUP
Sekedar
tulisan ini akan ditutup dengan sebuah kisah menarik berjudul “Berani Membayar
Harganya” yang saya yakin anda sudah pernah membacanya. Le dan istrinya dalam
cerita ini sebelumnya memiliki kehidupan yang sangat baik di Vietnam sebelum
akhirnya harus memulai hidup dari nol di Amerika Serikat.[1]”Pada
siang hari Le bekerja di pabrik roti dan pada m alam hari ia dan istrinya
menyimak tape recorder untuk belajar bahasa Inggris. Kemudian saya tahu bahwa
mereka ternyata tidur di atas karus berisi serbuk gergaji di atas lantai kamar
belakang pabrik roti itu. …….. Sepupu Le menawarkan pekerjaan di toko roti itu
kepada Le dan istrinya. Dikurangi pajak, Le akan membawa pulang gaji 175 dolar
AS per minggu, dan istrinya membawa 125 dolar AS. Pendapatan tahunan mereka
dengan kata lain adalah 15.600 dolar AS. Lagipula, sepupunya menawarkan untuk
menjual toko roti itu kepada mereka kapan pun mereka dapat membawa uang muka
sebesar 30.000 dolar AS. Sepupunya akan menutup sisanya dengan surat utang
senilai 90.000 dolar AS.
Inilah
yang dilakukan Le dan istrinya:
Dengan
pendapatan sebesar 300 dolar AS sekalipun, mereka memutuskan untuk tetap
tinggal di ruang belakang itu. Selama dua tahun mereka membersikan diri dengan
cara menyeka badan dengan sepon basah di kamar kecil pusat perbelanjaan itu.
Selama dua tahun itu pula menu makanan mereka nyaris terdiri dari produk toko
roti itu melulu. Per tahun, selama dua tahun, mereka hidup dengan uang total,
ya benar, total 600 dolar AS, dan menabung 30.000 dolar AS untuk uang muka.
Le
kemudian menjelaskan alasannya, “Kalau kami tinggal di apartemen, yang uang
sewanya dapat mencapai tiga ratus dolar per minggu, kami harus membayar uang
sewa itu. Dan, pasti, kami harus membeli perabotan. Lalu kami harus memiliki alat transportasi
untuk mondar-mandir ke tempat kerja, sehingga itu berarti bahwa kami harus membeli
mobil. Lantas kami harus mengeluarkan biaya untuk bensin maupun asuransi untuk
mobil itu. Selanjutnya barangkali ingin berpesiar ke banyak tempat dengan mobil
itu, yang berarti kami perlu membeli pakaian dan perlengkapan mandi. Jadi aku
bahwawa bila kami tinggal di apartemen, kami berdua tidak akan pernah dapat
mengumpulkan uang tiga puluh ribu dola itu.”
Sekarang,
kalau anda menduga bahwa anda telah mendenarkan segala sesuatunya tentang Le,
biarkan saya memberitahu, ada lagi yang lain: Setelah ia dan istrinya
menyisihkan uang sebanyak 30.000 dolar AS dan membeli toko roti itu, Le sekali
lagi duduk dengan istrinya untuk berbincang-bincang dengan serius. Kata Le,
mereka masih berhutang 90.000 dolar AS kepada sepupunya, dan sama beratnya
dengan masa dua tahun yang telah lewat itu, mereka harus tetap tinggal di kamar
belakang itu selama setahun lagi.
Saya
bangga untuk memberitahu anda bahwa dalam waktu setahun, Le Van Yu – yang
belakangan menjadi teman sekaligus penasihat saya – beserta istrinya
benar-benar menabung setiap sen keuntungan dari bisnis itu, melunasi utang
90.000 dolar AS, dan dalam tempo tiga tahun saja berhasil memiliki suatu bisnis
yang amat menguntungkan tanpa tanggungan apa pun lagi.
Saat
itu, dan baru pada saat itulah, Van Vu suami istri meninggalkan kamar belakang
toko roti itu dan menghuni apartemen mereka yang pertama. Samapai hari ini,
mereka masih terus menabung secara teratur, hidup dengan sebagian kecil
pendapat mereka, dan, tentu saja, selalu membayar kontan untuk setiap pembelian
mereka.
Apakah
anda pikir Le Van Vu seorang milyuner kini? Saya senang menceritakannya kepada
anda, berkali-kali.”
[1] John Mc.Cormack.
Bersedia Membayar Harganya, dalam Jack Canfield & Mark Victor Hansen. 2001. Chicken Soup for the Soul (terj). Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Komentar
Posting Komentar